Setiap orang secara mayoritas mempunyai imunitas atau daya tahan tubuh yang baik.

Rasa takut terhadap suatu penyakit atau yang saat ini sedang mewabah di 158 negara yaitu CoViD-19, adalah hal yang wajar. Rasa takut tersebut muncul karena ketidaktahuan kita atau menerima informasi yang keliru.

Sebelumnya perlu diketahui, jika tulisan yang disampaikan berikut ini bukanlah sebuah rujukan medis. Tujuannya adalah, agar kita tidak perlu panik ataupun takut dalam menghadapi CoViD-19, tetapi tetap waspada dan bertindak secara benar serta bijaksana.

Informasi Valid

Mulailah dengan mencari dan mendapatkan fakta, data-data, dan informasi yang valid, kredibel serta bisa dipertanggungjawabkan, kemudian olah fakta, data-data dan informasi tersebut, sehingga kita akan paham apa yang sedang kita hadapi.

Menurut data yang didapatkan, tanggal 18 Maret 2020 Case Fatality Ratio (CFR) atau mortality rate (rasio kematian) dikarenakan CoViD-19 di dunia adalah 4%, sedangkan Indonesia untuk CFR nya sebesar 8,37%. (sumber : www.covid19.go.id)

Cara menghitung CFR sebagai berikut :

CFR = (deaths (kematian) : total cases (total kasus)) X 100

Kasus kematian di dunia akibat CoViD-19, sebesar 80% adalah orang berusia di atas 50 tahun atau sebelumnya menderita penyakit yang berhubungan dengan ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut). Ada beberapa kasus berhubungan dengan tumor serta diabetes. Hingga saat ini, untuk menangkal CoViD-19 yang paling efektif adalah imun atau daya tahan tubuh kita sendiri. Semakin rendah daya tahan tubuh, semakin beresiko terkena CoViD-19.

Penyebaran coronavirus

CoViD-19 terdapat pada cairan dari mulut dan hidung penderita, virus yang ukurannya sangat kecil tersebut akan menulari orang lain ketika masuk ke hidung atau mulut yang menjadi pintu gerbang pernapasan. Virus CoViD-19 tidak hidup di udara, tapi ia memerlukan media untuk menempel dan bisa hidup hingga 2 hari pada media tersebut.

Media tersebut bisa apa saja, misalkan tangan, uang, gagang pintu, piring, meja, kursi, alat tulis, belt pada eskalator, keranjang belanja, dll. Media paling berisiko adalah yang diakses secara umum. Misal seorang penderita CoViD-19 batuk dan menutup mulutnya dengan tangan. Lalu ia memegang uang kertas. Uang kertas itu ia berikan ke seorang penjual. Kita mendapatkan uang yang sama dari penjual tersebut sebagai kembalian belanja. Maka menempellah virus ke tangan kita dan tangan penjual. Lalu kita memegang hidung atau makan sesuatu langsung dengan tangan. Virus masuk ke organ pernapasan.

Cara Efektif

Menggunakan masker agar tidak terkena virus CoViD-19 adalah kurang efektif. Sangatlah kecil kemungkinan seorang pengidap CoViD-19 batuk di depan kita lalu cairannya mengenai wajah kita. Tapi kemungkinan yang terbesar adalah, dia batuk, menutup mulut, memegang sebuah benda di sekitar, lalu kita pegang juga benda itu.

Cara yang paling efektif adalah perbanyak mencuci tangan dengan sabun atau disinfektan. Jangan pernah menyentuh area wajah tanpa cuci tangan sebelumnya, jangan makan tanpa alat, hindari berpergian ke tempat umum bila tidak penting, serta jagalah tubuh tetap sehat, jangan terlampau lelah. Imbangkan gizi agar imunitas kita tetap baik.

Carrier

Kita mungkin saja memiliki virus CoViD-19 dalam tubuh kita, tapi kita tidak tahu karena tak mengalami gejala-gejalanya. Namun kita sangat mungkin jadi carrier (pembawa).

Darimana kita tahu jika kita tidak mengidap virus CoViD-19 ?  Apakah karena kita sehat-sehat saja ?

Virus CoViD-19 bisa masuk ke tubuh kita dan kita sehat-sehat saja karena imunitas tubuh kita berhasil mengalahkannya dalam masa inkubasi 14 hari. Jika dalam 14 hari inkubasi itu imunitas tubuh kita kalah, maka timbul gejala-gejala dan kita sakit. Ketika virus CoViD-19 masuk ke tubuh kita, maka kita resmi mengidap/terinfeksi CoViD-19 (meski kemudian sembuh dengan sendirinya). Selama virus itu masih ada dalam tubuh kita, maka otomatis kita jadi carrier. Penyebaran virus dari pengidap tanpa gejala inilah (mungkin termasuk kita) memerlukan tanggungjawab di level individu.

Kesadaran Individu

Sampai di sini kita tidak tahu apakah kita carrier atau bukan, tapi kita bisa lebih bertanggungjawab. Sebagai pengidap dan juga carrier, imunitas kita mungkin kuat. Tapi tidak bagi orang lain, terutama mereka yang berusia tua dan memiliki penyakit.

Sebisa mungkin untuk menghindari atau membatasi pertemuan dengan orang-orang yang berisiko tinggi terkena virus CoViD-19. Misalnya bertemu orangtua. Kita bisa menulari mereka dan rasio kematian mereka akan tinggi. Cuci tangan dan memelihara kesehatan adalah cara paling efektif. Cara efektif lain adalah 'mengkarantina diri'. Membatasi pergi ke tempat publik dimana kita akan menyentuh banyak benda yang juga disentuh orang lain.

Tanpa kita sadari, jika kita hidup di antara berbagai virus dan bakteri, per meter persegi ada 800 juta virus yang hidup (terutama di udara). Kita masih bisa tetap hidup dan sehat karena imunitas tubuh kita selalu bekerja melawan mereka. Semakin kita menjaga kesehatan tubuh lewat pola hidup dan pola makan, makin kuat juga imun tubuh kita. Itulah mengapa penderita HIV/AIDS bisa meninggal hanya karena flu (karena imunitas mereka lemah).

Jadi: pelihara kesehatan diri, jangan terlalu lelah, cuci tangan tiap 1 jam, makan dengan alat makan, karantina diri dengan tidak berpergian ke tempat publik bila tidak penting, serta usahakan jangan menemui orang tua dan penderita penyakit agar mereka tidak tertular dari kita (tanpa kita sadari).

Kita bisa lebih bertanggungjawab pada orang lain dan diri sendiri, kita mungkin tidak bisa mengontrol banyak hal di luar diri kita (benda yang jadi media, keharusan pergi bekerja, dll), tetapi kita bisa mengontrol diri kita sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *